Ketika angin bertiup pasti tetap ada debu yang slalu mengikutinya, entah itu sedikit ataupun dalam jumlah banyak.
Suatu hari, angin bertanya kepada debu, "Hai debu, kenapa kau slalu mengikutiku? Apa yang istimewa dariku sehingga membuatmu slalu ikut denganku." Debu menjawab dengan polosnya,"Aku tak tau, Angin. Yang aku tau setiap engkau bertiup, di mana pun aku, pasti dengan ringannya aku akan mengikutimu." Kemudian angin bergumam, "Tapi aku lebih suka kalau serbuk bunga yang megikutiku, aku akan merasa lebih bermanfaat bisa menyebarkan bakal kehidupan baru." Debu menunduk sedih dan menggumamkan sesuatu,"Tapi aku bukanlah serbuk bunga yang bisa menjadi sebuah kehidupan yang baru, asalku dari tanah bukan dari sebuah tanaman yang berbunga." Dan angin pun menjawab,"Aku tidak pernah menyuruhmu menjadi sebuah serbuk bunga, tapi aku hanya berkata kalau aku merasa lebih berguna jika serbuk bunga yang mengikutiku." "Dan kau merasa sangat merugikan kalau debu yang slalu mengikutimu?" sambung debu. Angin pun tersinggung dengan perkataan debu. Dan untuk beberapa saat mereka terdiam. Akhirnya lewatlah mereka di sebuah hutan. Debu pun akhirnya menempel pada dedaunan yang ada di hutan tersebut. Angin tak mengiraukannya.
Dengan seiring berjalannya waktu, daun yang ditempeli debu tersebut mengering dan jatuh, kemudian membaur menjadi tanah. Betapa beruntungnya debu bertemu dengan dedaunan tersebut yang akhirnya bisa menjadikannya ke wujud asal.
No comments:
Post a Comment