Tuesday, December 14, 2010

Memori

Aku mengingat akan buramnya malam
Di keheningan malam itu
Kian miris rasanya
Jika cuma air mata yang teralir tiap malamnya
Do’aku Cuma tinggal sebuah ucapan yang tak ada gunanya
Cuma rasa hampa yang sejurus pada ingatanku
Tentang hal itu
Aku terus berjalan di keheningan malam
Sampai kutemukan titik terang,
Yang mungkin terus menjadi terang
Atau redup kemudian
Yang jelas,
Aku terseret ke arahnya
Dan menjauh dari kegelapan malam
Aku tersandar pada bahu
Sesosok yang temaniku,
Belum lama sakit itu hilang
Cuma sesosok itu harapanku
Semoga 

Ujungnya?

Aku beringsut pada angin yang berhembus ke arahku. Tetap memandang pada hilir yang tlah lalai akan hulunya. Berayun pada ranting adalah gila. Rapuh, tak berdaya. Akhirnya berujung pada penyesalan. Penyesalan yang sangat menyakitkan. Terkadang, buram tapi juga kelam. Sulit untuk menebak apa yang dinamakan kehidupan. Teori kadang cumalah teori. Kodrat yang berbicara tetaplah berjalan bebas di antara pepohonan yang diterangi oleh cahaya rembulan yang terkadang redup. Aku meraih sebuah bunga yang tak lagi bernyawa. Berwarna. Tapi berbau. Kian lama kian sakit menusuk. Kegilaan ini kian lama bersarang pada pembuluh nadi yang miris. Aku tersenyum pada bulan yang tenggelam akan terang sang fajar. Mulai masuk dimensi baru.

Maaf

For : Hibatullah Bayu Prasetya (Bayu) and Wismar Rizki Wijayanti ( Imang )
Sobat, aku rindu akan hadirmu. Cobalah tatap aku! Katakan semua salahku. Kau slalu bilang "Maaf mengganggu" apakah yang kau maksud “Kau sangat mengganggu.” Di saat kau sedang kesal akan duniamu, slalu saja kau bilang, “Lebih baik aku mati karena keberadaanku selalu merepotkan.” Apakah yang kau maksud “Matilah kau! Hidupmu Cuma menjadi pengganggu.” Apakah itu semua yang kau maksud? Apa yang melukai perasaanmu kawan? Okay! Sejak aku bersama **Y* sikapmu berubah 1800. Ada apa sobat? Katakan! Apa aku mulai kurang care terhadapmu? (okay ku akui itu). Apakah aku selalu mengusikmu? Apakah aku selalu merepotkanmu? Apa aku selalu menjadi yang teregois?Katakan! Jangan Cuma diam! Apakah dengan cara ini kau bias lepas dariku? Kalau emang itu maumu, aku tak akan mengganggu kehidupanmu. So, hidupmu bisa tentram kayak dulu. Sebelum adanya setan pengganggu sepertiku.
Hey! Aku masih menganggapmu sahabat atau bestfriend atau karib atau pal atau fellow-lah. Mungkin aku yang berlebihan, tapi kumohon. Tak bisakah kau katakan tentang semua yang buatmu seperti ini? Aku tersiksa! Sekarang, apakah yang bias menebus semuanya? Apakah aku harus berlutut di depanmu? Apakah aku harus menangis di depanmu? Apakah kau ingin menginjakku? Atau mungkin menyuruhku untuk mati. Ya Allah! Kapankah kau selesaikan cobaan-Mu ini? Hamba-Mu ini tak bisa lebih sabar, Ya Rabb! Cuma kegelapan yang justru menyelimutiku. Ya Allah! Bimbinglah hamba-Mu yang tak tahu diri ini untuk menuju surgamu. Aku ingin kembali.
Sesak nafasku melihatmu. Tetap dengan kedinginanmu, kesinisanmu, diammu dan kebencianmu. Astaghfirullah. Kapan aku bisa menyelesaikan ini? Bimbinglah aku Ya Rabb! Sesembab apapun mata ini, ku akui. Omong Kosong! Oke! Mereka yang di luar sana mungkin bilang “Ah! Cuma hal kayak gitu aja dipikirin. Lebay sah!” Okay! Aku terima. Cuma angin. Tapi bukan berarti tak penting. Aku enggak tau, apakah itu yang buat jatuh mentalku? (maybe, but be positive Nai!). Semuanya emang udah hancur. Tapi aku percaya, dibalik hancurnya kisah ini, masih ada kisah utuh yang bisa kubangun. Mungkin, Kalian (Hibatullah Bayu Prasetya dan Wismar Rizki Wijayanti) enggak akan pernah menyadari bahwa aku masih ngganggap kalian sebagai sahabat. Sebenci apapun diriku pada kalian, semata-mata aku sayang. Pengen kalian enggak salah kayak aku. Sekarang berteriakpun percuma. Akulah pecundang!

Dan

Kini berteriak pun tak ada gunanya
Sunyi tetap kan menghampiri
Sinar bulan yang temaniku,
Kini terenggut oleh tebalnya mendung.
Dan…….
Ketika itu aku berharap tuk dapat lihat terangnya lagi

Rumitnya Puzzle Dunia

Waktu itu...
Saat kutemukan
dirimu yang sebenarnya
enggan kusebut kata "Iya"
enggan kudengar kata "Maaf"
enggan pula kulihat wajah yang takkan pernah kukira
Kau bujuk dengan sumpahmu
bergemingpun takkan
cuma pandangan gelap yang tetap tergambar

Sebuah senyuman yang kau junjung
cumalah senyum palsu yang kau cipta
demi sebuah tetes kepedihan yang kurasa

Sekarang, puaskah kau melihat?
belum puaskah kau dengar?
cukup ku katakan kata yang takkan pernah kuucap
walau itu pada musuh yang takkan pernah kumaafkan

Sepanjang malam,
aku tetap diam bersama bintang-bintang
yang telah hilang tersapu awan
aku tertunduk pada satu pilihan
kemudian, menjadi dua

Akhiri atau lanjut!
sebuah amanat yang telah buat kocar-kacir
semua programku

Akhiri?
bukankah sama jika berlari dari kenyataan?
Lanjut?
Haruskah aku membimbingnya?
Bagaimana kalau....

Baiklah!
kini lanjut yang terucap

Sebelumnya,
kutelusur apa yang ada padamu
ternyata...
You're the victim of the darkness of the world
just because your 'Mother'?
tak bisakah kau mengelak?
jika itu cumalah fatamorgana hidup

'Orang yang kau sayangi' takkan rela melihatmu
cuma karena logika yang keliru
sadarlah dari tidurmu

Aku kan terus bersabar
hanya untuk lihat tulus pikirmu
penyesalan memang datang terakhir
dan bukan menjadi yang paling akhir
if you use the chance
everything will be fine
but, if there ain't no chance
so do you which can find the chance

Hey!
ingat! God Always with you
and always bless you

Mungkin,
aku kan bersamamu
kulanjutkan rajut mimpiku
dengan seseorang
dengan sosok transformasi
yang telah berevolusi
menjadi sebuah formasi :)

Thursday, November 25, 2010

Ke manakah Engkau Gerangan

Aku terperanjat, ketika sosokmu berubah. Tak ku sengaja. Air mataku telah berlinang. Karenamu, cuma karenamu. Selama ini, betapa aku mengagumimu. Sosok yang berhati besar ,murah senyum, baik hati, sholeh, pintar pula. Bayangmu, tak lepas dari anganku yang terus berkarya denganmu. Tapi, aku terpaku di sini. Ada apa gerangan yang terjadi padamu? Maaf teman, jika selama ini aku kurang memperhatikanmu. Selepas senyummu, cuma rasa kecewa yang menyelimuti. Aku berharap pada bintang kecil yang slalu setia tersenyum untukku dan terus temaniku di saat aku gelap. Aku mengigau akan dirimu, di saat aku sakit. Betapa aku kecewa melihatmu kini. Apa ini salahku kawan? Aku tau, kau kesepian di luar sana. Aku tau, kau ingin diterima di kalanganmu. Tapi, setidaknya kau tak seharusnya seperti ini. Setidaknya, masih ada setitik kebaikanmu yang kau curahkan untukku. Aku berpikir akan karyamu yang lumpuhkanku. Aku berlutut ketika kau membacakan ayat-Nya. Aku terharu ketika kau melagukan surat-Nya. Aku suka mendengarmu menyimak karya-Nya. Tapi, aku sungguh sakit ketika yang kudengar bukanlah itu lagi. Tak lain cumalah kata-kata kotor yang kau lontarkan. Demi senyum lebar teman-temanmu. Tidakkah kau sadar akan keadaanmu? Tidakkah kau sadar? Aku... kami...semua merindukanmu. Yang dulu. Bukan menuju kehancuran. Aku menangis bukan karenamu. Tapi karena tingkah lakumu. Aku lemas tak berdaya mendengar itu dari para sahabat. Taukah seberapa kagumku padamu? Aku kagum! Sangat kagum. Tapi itu dulu. Sekarang, telah kau hancurkan semua. Aku hanya menangis, ketika lagu yang sering kau nyanyikan bersama teman-teman tak sengaja bermain. Aku tahu, sekarang cuma kegilaan saja yang menyelimutiku. Mungkin, penyakit gila nomor 13 yang tengah melandaku. Ingatkah?? "If you're not the one than why does my soul feel glad today?.....I don't wanna runaway but I can't take it, I don't understand If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am? Is there anyway that I can stay in your arms." atau "Soledad". Hahaha.... itu kenangan kita semua untuk dulu. Sekarang, apakah kau masih mengingatku? Mungkin cuma bayangan mereka ya! Kau pernah bilang padaku,"Jangan pernah mencoba tuk hidup dalam kebohongan." Kenapa kau jalani semua itu? Aku tau akan keadaanmu yang sulit. Aku cuma berusaha untuk mengerti akan keadaanmu. Tapi kau tau aku. Sulit bagiku tuk menebak semua taktikmu. Mungkin, itu cuma bunga jalan yang hiasi seluruh taktik akal baikmu. tapi, entah mengapa aku terhenyak seketika, saat pesanku kau balas dengan nada dinginmu. Aku berpikir, Mungkin semua ini akan berakhir dengan segera. Aku tetap menunduk. Merenungkan sejenak apa yang telah terjadi.
Pesan masuk. Kulihat darinya. Jawaban yang sungguh jauh di luar kepala. Setega itu dia menjawab pertnyaanku. Aku hapus apa yang sangat menyakitkan. Aku terdiam dalam kesepian yang kian tak terdefinisi olehku. Aku menoleh pada bintang yang biasa bersamaku. Redup. Hilanglah sudah. Baru kali ini kau kasar padaku. Apa salahku? Apakah aku mengganggu hidupmu? Jika iya. Oke! Aku akan pergi dari semua topeng bodohmu itu. Kau pikir kaulah yang paling benar. Han! Kumohon sadar! Kau benar-benar menyiksaku. Kau tak pernah buatku sakit, bahkan sakit hati. Tapi ada apa gerangan yang terjadi? Kakak…… aku masih menganggapmu. Di saat kita kokoh dalam sebuah persahabatan, kita mampu buat iri yang lain. Saat semua lengah, kau………………Han! I trust you! You’re strong! Let’s see to us if you’re Mohammad Jihan Kholid. Air mataku kian membeku bersama dinginnya nafasmu. Perih ini akan kutahan, hingga kau tersadar. Aku ada di belakangmu. I’ll become your bestfriend forever. We wanna see you again MJK.
Aku berteriak dibalik ayunmu
bimbang fikirku
tuk arungi sebuah
nada - nada pengharapan
*something 'bout love - david archuleta*
Tapi,
ucapmu biarkanku
menyapu alam bebasku
yang berlari beriring pada tangisku
*You can - David archuleta*
Aku tersenyum....
berebut riang redup dunia
tetap bersamamu
haruskah aku pergi
tuk mu kawan??
*Soledad - Westlife*
Aku merasakanya
Aku mengingatnya
Aku memandangnya
Aku...
buang jauh-jauh itu
*Crush- David archuleta*
Kau berusaha demi aku
kau belajar,
Kau tersenyum,
untuk apa jika
semuanya tertutup abumu
Semuanya???
Lihatlah!
*Hero - Sterling Knight*
Berakhirkah???
semua yang kita rangkai
semua yang kita gambar
semua yang kita tulis
semua yang kita lihat
Terima kasih untuk sakitnya
*No Love - Simple Plan*